Zakat Harta (Al Mal al Mustafad)

Zakat Harta

Zakat Harta Al maal al mustafad adalah segala harta benda yang didapatkan oleh seorang mukallaf (dipertengahan tahun). Yang berupa emas dan perak (uang), tanah, hewan ternak atau segala jenis harta yang didapatkan dengan cara-cara yang disyariatkan. Seperti pemasukan rutin dari upah atau gaji, bonus-bonus dan pemberian, laba perniagaan, atau dari harta warisan.  Jika telah mencapai satu nishab maka seluruh harta-harta ini wajib dikeluarkan zakatnya dengan rincian sebagai berikut :

  • Jika harta yang didapatkan itu berasal dari pertumbuhan harta yang wajib dizakati. Semisal dari laba perniagaan atau peternakan yang beranak pinak. Maka harta yang didapatkan ini (laba perniagaan dan anak hewan ternak) digabungkan dengan sumbernya. Yaitu laba digabungkan dengan modal dan anak hewan ternak digabungkan induknya. Dan ketika tiba waktu setahun (haul) maka seluruhnya dihitung menjadi satu lalu dikeluarkan zakatnya.
  • Jika harta yang didapatkan di pertengahan tahun ini banyak sehingga mencapai satu nishab dan tidak berasal (bersumber) dari harta yang wajib dizakati, akan tetapi berasal dari sumber lain (tersendiri) maka baru wajib dizakati jika telah berjalan waktu setahun sebagaimana seseorang menjual tanah atau mobil dengan harga yang besar mencapai satu nishab pada bulan ramadhan tahun 1438 H, maka barulah pada ramadhan tahun 1439 H wajib dikeluarkan zakat dengan catatan jumlah satu nishab itu utuh selama setahun berjalan. Ini mengikuti prinsip haul sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw :

لَا زَكَاةَ فِى مَالِ امْرِئٍ حَتّي يَحُوْلَ عَلَيْهِ الـْحَوْلُ

“Tidak ada zakat dalam harta seseorang sampai datang waktu setahun padanya”

 

Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, harta yang didapatkan (al maal al mustafaad) kapanpun diperoleh dan meski tidak bersumber atau bukan buah dari harta yang wajib dizakati maka bisa digabungkan secara langsung dengan harta yang wajib dizakati ketika harta yang wajib dizakati telah mencapai satu nishab dan telah tiba waktu setahun (haul). Zakat Harta

  • Harta yang didapatkan dan mencapai satu nishab wajib dikeluarkan zakatnya ketika itu juga. Semisal seseorang mendapatkan bonus besar dari perusahaan, mendapat hadiah besar, baru saja menjual tanah, rumah atau aset-aset seperti mobil dsb. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas ra :

يُزَكِّيْهِ حِيْنَ يَسْتَفِيْدُهُ

“Ia menzakatinya pada saat mendapatkannya”

 

Imam Makhul berkata :

 

Jika seseorang memiliki kewajiban zakat harta benda pada bulan tertentu. Lalu sebelum masa wajib itu datang ia mendapatkan harta (lain) yang kemudian ia infakkan (untuk kebutuhan) maka tidak ada kewajiban zakat apapun dalam harta yang telah ia pergunakan. Akan tetapi bila saat bulan wajib zakat telah tiba dan uang yang didapatkan masih ada sisa, maka sisa itu harus pula dizakati (digabungkan dengan harta yang wajib dizakati).
Adapun jika seseorang sebelumnya tidak memiliki harta yang harus dizakati pada bulan tertentu lalu ia mendapatkan harta benda (al maal al mustafad) maka ia mengeluarkan zakatnya pada saat itu juga. Zakat Harta

Imam Az Zuhri berkata :

 

Jika seseorang mendapatkan harta (al maal al mustafad) lalu bermaksud menggunakannya sebelum masa (bulan) wajib zakat datang maka ia harus terlebih dahulu mengeluarkan zakat harta yang didapatkan itu baru kemudian menggunakannya. Adapun jika ia tidak bermaksud menggunakan harta yang baru didapatkan itu maka ia boleh menzakatinya bersama (digabungkan dengan) harta sebelumnya (ketika tiba bulan wajib zakat).

Dan termasuk al maal al mustafad adalah gaji atau uang insentif atas nama apapun yang diterima oleh seseorang. Jika mengacu kepada riwayat ini maka ketika menerima gaji atau insentif tersebut, seseorang harus mengeluarkan zakatnya sebagaimana riwayat :

كَانَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا قَبَضَ عَطَاءَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ زَكَّاهُ فِى الْحَالِ

“Adalah Ibnu Mas’ud ra, setiap kali menerima insentif (pemberian rutin) dari baitul maal maka beliau mengeluarkan zakat saat itu juga”

Zakat gaji atau bonus ini disebutkan oleh Imam Malik ra juga diperintahkan oleh Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan ra.

Lalu berapakah nishab dan nilai zakat yang harus dikeluarkan? Ibnu Abbas ra berkata :

فِى الْمَالِ الْمُسْتَفَادِ إِذَا بَلَغَ مِائَتَى دِرْهَمٍ خَمْسَةُ دَرَاهِمَ

“Dalam harta benda yang didapatkan bila mencapai nilai dua ratus dirham maka wajib dikeluarkan zakat sebesar lima dirham” (HR Abdurrazzaq dalam al Mushannaf )

Ini artinya nishab al maal al mustafad adalah sebesar nishab emas dan perak. Sedang zakat yang harus dikeluarkan adalah sebesar 2,5 %.

Riwayat Ibnu Abbas ra, Ibnu Mas’ud ra dan Muawiyah bin Abi Sufyan ra serta pendapat dari Imam Makhul dan Imam Zuhri ini meski tidak diambil oleh Imam Madzhab empat, akan tetapi seluruhnya bersandar pada keumuman firman Allah azza wajalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ…

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…”

= والله يتولي الجميع برعايته =


Menebar manfaat menjadi mudah, mari bantu mereka yang membutuhkan.

 

  • Klik : https://lazisalharomain.org/donasi/
  • Tulis nominal.
  • Klik : Donasi sekarang,
  • Tulis Identitas : Nama, jenis kelamin, alamat email, no. Hp, alamat, akad/niat donasi, pilih Bank.  Klik : donasi
  • Selesai.

Jazakumulloh telah bergabung dalam menebar manfaat untuk meraih kemulyaan.

Bagikan
Scroll Up