Zakat Perdagangan Bagaimana Perhitungannya?

Zakat Perdagangan

Zakat Perdagangan Dalam sebagian riwayat (jika memang benar) dari Imam Malik ra dan Imam Dawud Az Zhahiri, tidak ada kewajiban zakat dalam perdagangan. Meski demikian tetap harus memperhatikan sabda Rasulullah Muhammad Saw:

يَامَعْشَرَ التُّجَّارِ, إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلْفُ فَشُوْبُوْهُ بِالصَّدَقَةِ

“Wahai sekalian para pedagang, sesungguhnya jual beli dimasuki oleh kata-kata tidak berguna dan sumpah (yang terkadang palsu), maka campurlah jual beli itu dengan sedekah!” Zakat Perdagangan

Memang hampir mustahil dihindari oleh para pedagang adalah basa basi untuk menawarkan prodak kepada pembeli. Seringkali kata-kata tidak berguna atau bahkan kebohongan terlontar begitu saja untuk bisa mempengaruhi calon pembeli agar segera membeli prodak yang ditawarkan. Gambaran sederhana dari kesimpulan ini bisa disaksikan lewat tv berupa banyaknya iklan-iklan yang penuh dengan hal-hal yang berlebihan dan bahkan sebuah kebohongan. Oleh karena itulah Rasulullah Saw mengajarkan kepada para pedagang diajarkan supaya memperbanyak sedekah demi menjernihkan harta benda.

Adapun menurut mayoritas ulama zakat perdagangan atau jual beli hukumnya adalah wajib karena termasuk dalam keumuman firman Allah azza wajalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ…

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik …”

Imam Mujahid mengatakan : “Ayat ini turun terkait dengan perdagangan”

Juga berdasarkan riwayat :

– Dari Abu Dzarr ra. Rasulullah Saw bersabda:

فِى اْلإِبِلِ صَدَقَتُهَا وَفِي الْبَقَرِ صَدَقَتُهَا وَفِي الْغَنَمِ صَدَقَتُهَا وَفِي الْبَزِّ صَدَقَتُهَا

“Dalam unta ada sedekah (zakat) nya. Dalam sapi ada sedekahnya. Dalam kambing ada sedekahnya. Dan dalam pakaian ada sedekahnya”

Imam al Jauhari mengatakan :

Maksudnya adalah pakaian yang disiapkan untuk diperjual belikan karena zakat pakaian tidak diwajibkan sehingga jelas yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah zakat perdagangan. Imam Ibnu al Mundzir mengatakan: “Mayoritas ahli ilmu sepakat tentang kewajiban zakat perdagangan.

– Samurah bin Jundub ra menuliskan wasiat kepada anaknya yang di antara isinya adalah :

…وَكَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ مِنَ الرَّقِيْقِ الَّذِيْ يُعَدُّ لِلْبَيْعِ

“…dan adalah beliau (Rasulullah Saw) memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat hamba sahaya yang memang disiapkan untuk diperjual belikan”

– Seorang pedagang kulit bernama Himas bercerita :

“Aku bertemu dengan Umar bin Khatthab ra saat sedang memikul kulit-kulit yang sudah tersamak. Beliau lalu berkata: “Hai Himas, mengapa kamu belum mengeluarkan zakat?” aku menjawab: Wahai Amirul Mukminin, saya tidak memiliki apapun kecuali ini dan kulit-kulit yang sedang dalam proses samak.
Beliau berkata: “Itukan juga harta, letakkanlah!” akupun meletakkan kulit-kulit itu di hadapan beliau. Beliau menghitungnya dan lalu mendapati bahwa kulit-kulit itu sudah wajib dizakati. Maka beliau pun menarik zakatnya.

Dan sebagaimana harta benda lain yang wajib dizakati, harta perdagangan juga baru dizakati jika telah memenuhi syarat haul dan nishab. Adapun haul maka sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw :

لَا زَكَاةَ فِى مَالِ امْرِئٍ حَتّي يَحُوْلَ عَلَيْهِ الـْحَوْلُ

“Tidak ada zakat dalam harta seseorang sampai datang waktu setahun padanya”

Hitungan waktu setahun ini dimulai dari hari pembelian barang untuk diperdagangkan sebagaimana membeli tanah, rumah, kendaraan dsb dengan tujuan (niat) untuk diperdagangkan. Adapun pembelian dengan niat untuk disimpan maka tidak wajid dizakati.

Sedang syarat nishab maka sama dengan nishab emas dan perak yaitu senilai emas 20 mitsqal setara dengan 85-95 gram. Jumlah ini dihitung dari seluruh modal dan keuntungan. Dan menurut pendapat shahih dalam madzhab Syafii, capaian satu nishab ini tidak harus terjadi selama setahun penuh. Artinya jika dalam permulaan atau pertengahan tahun jumlah modal dan keuntungan bersih belum mencapai satu nishab dan ketika tiba akhir tahun sudah mencapai angka nishab maka wajib mengeluarkan zakat seperti zakat emas dan perak yaitu dua setengah persen berdasarkan kisah ketika Anas bin Malik ra diutus oleh Abu Bakar ra ke Bahrain dengan menuliskan aturan kewajiban zakat sebagaimana diputuskan oleh Rasulullah Saw. Terdapat dalam tulisan itu adalah kalimat :

…وَفِى الرِّقَةِ رُبُعُ الْعُشُرِ…

“…dan dalam emas perak (ada kewajiban zakat sebanyak) dua setengah persen…”

Jadi ketika waktu setahun telah tiba maka uang cash yang ada, piutang yang masih bisa diharapkan pembayarannya serta barang-barang dagangan yang masih ada semuanya harus dijumlah menjadi satu dan jika telah mencapai satu nishab maka dikeluarkan zakat 2,5 %. Sebagai catatan bahwa hitungan setahun yang digunakan adalah waktu hijriyyah. Sedang untuk harga barang maka dihitung dengan harga jual terkini, bukan dengan harga jual ketika barang itu dibeli untuk diperdagangkan. Zakat Perdagangan

= والله يتولي الجميع برعايته =


Menebar manfaat menjadi mudah, mari bantu mereka yang membutuhkan.

Klik : https://lazisalharomain.org/donasi/

Tulis nominal.

Klik : Donasi sekarang,

Tulis Identitas : Nama, jenis kelamin, alamat email, no. Hp, alamat, akad/niat donasi, pilih Bank.  Klik : donasi

Selesai.

Jazakumulloh telah bergabung dalam menebar manfaat untuk meraih kemulyaan.

Bagikan
Scroll Up