Idul Fitri Saatnya Merangkai Kemenangan

Idul Fitri

Idul Fitri Saatnya Merangkai Kemenangan dengan Zakat Fithrah, Gema Takbir, dan Sholat Id

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Sungguh telah menang orang yang mengeluarkan zakat fithrahnya, menyebut nama Tuhannya (menggemakan takbir), lalu ia mengerjakan shalat (Idul Fithri).”

Makna dan Penjelasan Ayat

Bulan Ramadhan tak ubahnya wahana penggemblengan dan pemanasan diri. Kaum muslimin ditempa di bulan itu dengan berbagai tempaan yang cukup berat agar mampu menapaki sebelas bulan berikutnya dengan baik. Tentu perjuangan menjalani “training” selama sebulan ini capek dan melelahkan. Namun di penghujung akhir Ramadhan, sebagai rahmat Allah swt, diciptakan satu suasana yang merubah kelelahan itu menjadi keceriaan dan kesegaran. Suasana pada detik-detik akhir Ramadhan itu adalah hari raya Idul Fitri.

Bentuk keceriaan pada hari raya Idul Fithri itu :

Pertama, disematkan predikat kemenangan bagi kaum muslimin yang mengikuti training Ramadhan tersebut.

Hari raya pada detik-detik akhir Ramadhan ini dinamakan oleh penduduk langit sebagai Lailatul Jaizah yaitu malam pemberian penghargaan. Usai shalat Idul Fitri saatnya piala penghargaan itu diterima oleh orang-orang yang berpuasa dengan penuh kesukacitaan. Hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah Saw :

إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدِ الْفِطْرِ وَقَفَتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى أَبْوَابِ الطُّرُقِ فَنَادَوْا: اُغْدُوْا يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلَى رَبٍّ كَرِيْمٍ ، يَمُنُّ بِالْخَيْرِ ثُمَّ يُثِيْبُ عَلَيْهِ الْجَزِيْلَ ، لَقَدْ أُمِرْتُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَقُمْتُمْ ، وَأُمِرْتُمْ بِصِيَامِ النَّهَارِ فَصُمْتُمْ وَأَطَعْتُمْ رَبَّكُمْ ، فَاقْبِضُوْا جَوَائِزَكُمْ ، فَإِذَا صَلَّوْا نَادَي مُنَادٍ: أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ ، فَارْجِعُوْا رَاشِدِيْنَ إِلَى رِحَالِكُمْ ، فَهُوَ يَوْمُ الْجَائِزَةِ ، وَيُسَمَّى ذَلِكَ الْيَوْمُ فِى السَّمَاءِ يَوْمَ الْجَائِزَةِ

Bila tiba Idul Fitri malaikat berdiri di pintu-pintu jalan dan berseru : “Hai kaum muslimin, berangkatlah kalian pagi-pagi menuju Tuhan Yang Maha Mulia. Dia akan memberikan kebaikan dan membalas kebaikan itu dengan sangat agung. Kalian semua diperintah qiyamullail dan kalian melaksanakan. Kalian diperintah puasa, maka kalian menjalankan dan kalian taati Tuhanmu. Kini terimalah penghargaan-penghargaanmu.” Jika kaum muslimin usai menjalankan sholat Id, seseorang (malaikat) berseru : “Perhatian! Sesungguhnya Tuhan telah memberikan kalian pengampunan. Pulanglah ke rumah kalian dengan penuh petunjuk.” Hari itu adalah hari menerima penghargaan. Hari itu dikenal di langit sebagai Yaumul Jaizah.”. (H.R. Thabarani)

Kedua, dianjurkan bagi kaum muslimin pada saat memasuki hari raya Idul Fitri itu untuk bergembira, baik dengan refreshing, rekreasi, memakai baju baru, bersilaturrahim, maupun dengan membuat hidangan yang lezat-lezat. Istilahnya jangan ada yang susah pada saat itu. Allah swt berfirman :

وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir atas hidayah yang diberikan kepadamu, dan agar kamu bersyukur.”. (QS. Al Baqarah : 185)

Seluruh orang yang berpuasa pada momentum Idul Fitri diserukan untuk bergembira ria. Melepas ketegangan dan mencairkan kebekuan. Idul Fitri adalah saat-saat untuk bermain dan bersuka cita. Puasa pada hari itu karenanya justru diharamkan. Orang yang dilanda susah pada hari itu karena tidak memiliki bekal makanan misalnya sejak dini diberikan bantuan dan pertolongan untuk mencukupi kebutuhannya agar bisa turut bergembira dengan saudara-saudaranya yang lain. Pada hari itu sepertinya jangan ada yang kesusahan dan tertekan agar semuanya fres dan fit kembali setelah menjalani puasa sebulan yang melelahkan.

Keberadaan Idul Fitri dengan demikian layak untuk dinikmati dengan rasa syukur ke hadirat Allah swt. Termasuk bagian dari syukur atas datangnya Idul Fitri adalah mandi, memakai mewangian, menggosok gigi, memotong kuku, memakai baju terindah, menyediakan makan minum, bersedekah, meningkatkan belanja keluarga (asal tidak boros), menampakkan muka berseri-seri, saling kunjung mengunjungi (ziarah dan silaturrahim), serta saling maaf memaafkan. Bagian syukur yang utama menyambut Idul Fitri adalah menggemakan takbir pada malam hari raya dan turut melakukan sholat Id keesokan harinya di samping membayar zakat fithrah.

Menggemakan Takbir

Bila malam hari raya Idul Fihtri telah tiba dengan dapat disaksikannya hilal tanggal 1 Syawal atau dengan menggenapkan bulan Ramadhan 30 hari maka kaum muslimin diperintahkan untuk menghidup-hidupkannya. Istilah menghidup-hidupkan malam berarti dibanding waktu tidur masih lebih banyak waktu terjaga. Setidak-tidaknya adalah dengan melaksanakan sholat Maghrib dan Isya secara berjamaah. Sabda Rasulullah saw :

مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَىِ الْعِيْدِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ – رواه ابن ماجه

“Barangsiapa menghidup-hidupkan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) maka hatinya tidak akan mati pada hari sekian banyak hati sama mati.”. (HR. Ibnu Majah)

Kegiatan yang paling anggun di dalam menghidup-hidupkan malam hari raya itu adalah dengan menggemakan takbir, kalimat yang menandakan kebesaran Allah swt, baik di rumah, di jalan, di pasar, apalagi di masjid dan surau-surau. Sabda Rasulullah saw :

زَيِّنُوْا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْرِ – رواه الطبرانى

“Hiasilah hari-hari rayamu dengan takbir.”. (HR. Thabarani)

 

Gema takbir itu sebagai rasa syukur kita kepada Allah swt atas kemenangan menjalani penggemblengan di bulan Ramadhan. Karena tidak ada ibadah yang utama pada malam itu melebihi menggemakan takbir.

Sholat Idul Fithri

Bagian syukur paska menjalani ibadah Ramadhan di hari raya Idul Fithri adalah melaksanakan sholat Idul Fitri keesokan harinya. Saking pentingnya keberadaan sholat ini sampai para wanita, gadis-gadis pingitan, dan lainnya  ditekankan untuk turut serta keluar menyaksikan syiar Islam yang agung itu. Semuanya strata kaum muslimin hendaknya turut melaksanakan sholat yang dimulai dengan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua ini bila tidak ada alasan yang mendesar seperti sakit dan bepergian.

Menurut Imam Abu Hanifah, hukum sholat Id adalah fardlu ain, sementara Imam Syafii dan Imam Malik mengatakan sunnah muakkadah.

Mengeluarkan Zakat Fihrah

Sebelum menuju masjid untuk melaksanakan sholat Id, kaum muslimin hendaknya terlebih dahulu telah menunaikan zakat fithrah. Karena zakat sebesar I sho’ atau kurang lebih 2,175 gram makanan pokok ini ada kaitannya dengan kesempurnaan ibadah puasa bulan Ramadhan, yaitu sebagai penambal kesalahan atau kekurangan selama melakukan puasa.

Rasulullah saw bersabada :

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ – رواه أبو داود وابن ماجه

Rasulullah saw menetapkan zakat fitrah sebagai pensuci orang puasa dari perbuatan dan perkataan buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Pada riwayat yang lain dinyatakan :

صَوْمُ شَهْرِ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

“Puasa bulan Ramadhan digantungkan antara langit dan bumi dan tidak diangkat kecuali dengan zakat fithrah.”. (HR. Abu Hafsh bin Syahin. Hadits ini nyeleneh namun derajat sanadnya bagus).


Menebar manfaat menjadi mudah, mari bantu mereka yang membutuhkan.
  • Klik : https://lazisalharomain.org/donasi/
  • Tulis nominal.
  • Klik : Donasi sekarang,
  • Tulis Identitas : Nama, jenis kelamin, alamat email, no. Hp, alamat, akad/niat donasi, pilih Bank.  Klik : donasi
  • Selesai.

Jazakumulloh telah bergabung dalam menebar manfaat untuk meraih kemulyaan.

Bagikan
Scroll Up