Wanita Bersedekah Seperti Inilah Keutamaannya

Wanita Bersedekah 

Wanita Bersedekah Sudah dimaklumi bahwa sedekah adalah syariat yang umum berlaku bagi setiap orang Islam baik laki-laki ataupun perempuan. Akan tetapi secara khusus Rasulullah Saw memberikan perintah supaya wanita bersedekah. Di antara wanita yang diperintahkan agar bersedekah itu adalah Sayyidah Aisyah ra isteri beliau Saw sendiri :

يَا عَائِشَةُ اسْتَتِرِيْ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَـمْرَةٍ…

“Wahai Aisyah, carilah perlindungan dari neraka meski hanya dengan secuil kurma…!”

Hadits ini juga secara jelas sebagai jawaban bagi pertanyaan seorang suami : “Cukupkah saya bersedekah mewakili keluarga saya?”

Selain itu, beliau Saw juga berpesan kepada para wanita. Supaya tidak lupa untuk berbagi makanan atau apa saja yang bisa diberikan kepada para tetangga. Demi memupuk kepedulian dan kasih sayang kepada sesama. Beliau Saw bersabda :

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لـِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita muslimah, janganlah seorang tetangga wanita meremehkan (hadiah) bagi tetangga wanita meski hanya berupa kaki kambing“

Dalam kesempatan shalat Idul Adha, Idul Fithri, atau shalat gerhana matahari, Rasulullah Saw juga memerintahkan sedekah secara umum kepada seluruh wanita :

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّيْ أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ : وَبِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ

“Wahai para wanita, bersedekahlah kalian karena sesungguhnya diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah kebanyakan penduduk neraka”

Mereka bertanya : “Sebab apakah wahai Rasulullah?” beliau Saw bersabda : “Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami…” (HR Bukhari no : 304 Kitab al Haidh bab (7) tarkil haaidh as shauma).

Jadi anjuran bersedekah secara khusus yang diarahkan Rasulullah Saw kepada para wanita adalah sebagai perimbangan karakter negativ pada diri wanita yang berupa suka melaknat (mencaci maki) dan melupakan kebaikan suami. Setiap hari suami memberi nafkah, tetapi bisa jadi karena saking biasanya lupa mengucapkan terima kasih dengan ucapan jazakumullah.

Kondisi ini sangat berbeda ketika orang lain memberikan hadiah berupa sesuatu yang berharga. Maka, seorang wanita bisa mengucapkan kata terima kasih dan jazakumullah beberapa kali atau puluhan kali dan tidak akan pernah melupakan. Kenyataan itu diperparah lagi bahwa pada suatu saat, ketika suami bersalah, maka perasaan yang begitu kuat dan dominan pada dirinya segera membuatnya naik dan mengatakan sungguh suamiku memang keterlaluan. Jadi kekurangan alamiah yang merupakan ujian Allah terkhusus bagi wanita tersebut disampaikan oleh Rasulullah Saw agar para wanita mewaspadainya dan tidak terjebak di dalamnya yang salah satu usaha itu adalah dengan rajin bersedekah karena seperti diketahui bersama kenyataan sedekah yang sangat terkait dengan keimanan bahwa sedekah adalah pintu kebaikan dan bisa membawa pelakunya kepada akhlak yang mulia.

Selain kekurangan mudah mencaci dan menyalahkan serta mengingkari kebaikan suami, kekurangan alami pada diri wanita sebagai ujian dari Allah, juga diidentifikasi oleh Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Menantu Rasulullah Saw ini mengatakan :

إِنَّ فِيْهِنَّ ثَلَاثَ خِصَالٍ مِنْ خِصَالِ الْيَهُوْدِ يَتَظَلَّمْنَ وَهُنَّ الظَّالِمَاتِ وَيَتَمَنَّعْنَ وَهُنَّ الرَّاغِبَاتِ وَيَحْلِفْنَ وَهُنَّ الْكَاذِبَاتِ…

Dalam diri wanita ada tiga sifat yang termasuk sifat yahudi; 1) merasa dizhalimi padahal merekalah yang berbuat zhalim. 2) berlagak menolak meski mereka sebenarnya sangat menyukai. Dan 3) mereka biasa bersumpah meski sedang berbohong…

Sebagian ulama lain mengatakan : “Seorang wanita tidak pernah dilarang melakukan sesuatu kecuali sesuatu itu pasti akan dilakukan”

Mencermati sifat wanita seperti dijelaskan Rasulullah Saw di atas, muncul pertanyaan mengapa kebanyakan wanita mudah melaknat dan mudah mengingkari kebaikan suami? Di antara Jawabannya adalah karena akal yang lemah (kurang) dan perasaan yang kuat, maka hal ini membuat wanita susah untuk diajak menoleh ke kanan dan ke kiri. Cenderung hanya melihat kepada satu arah. Susah untuk diajak berfikir dan melihat sesuatu perkara atau person dari segala sudut. Padahal Allah azza wajalla mengajarkan kepada manusia agar lebih melihat aspek kebaikan orang lain (taghliibul khair) daripada kekurangannya. Apalagi orang lain itu adalah suami sendiri, ayah anak-anaknya dan orang yang setiap hari memberinya nafkah.

Fenomena hanya melihat dari satu sudut sangat persis dengan cerita sekelompok orang buta yang bersama-sama memegang gajah. Selanjutanya ketika ditanya bagaimana gajah, maka masing-masing memberikan jawaban sesuai dengan anggota tubuh gajah yang kebetulan mereka sentuh. Jadi semuanya tidak bisa memberikan jawaban yang pas atau jika dinilai kesemua jawaban mereka salah. Jawaban mereka ini yang hanya melihat dari satu sisi sama persis dengan klaim setan :

…أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ

“…Saya lebih baik darinya, Engkau menciptakan diriku dari api dan Engkau menciptakannya (Adam) dari tanah”

Jadi perasaan lebih baik daripada Nabi Adam as, sebagai sebuah alasan untuk tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as, hanya karena setan melihat bahan baku penciptaannya yang berupa api lebih baik daripada tanah, bahan baku penciptaan Nabi Adam as. Mestinya setan melihat aspek lain bahwa Nabi Adam as bukan hanya sekedar diciptakan dari tanah, tetapi ada hal lain yang membuat Nabi Adam as mulia yaitu diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya dan ditiupkan pada dirinya dari ruh-Nya.

Apalagi setelah diamati lebih jauh, teori api lebih baik dari tanah adalah sebuah kesalahan. Sebab justru tanah itu lebih baik daripada api dari berbagai sisi yang di antaranya segala sesuatu yang berdampingan dengan api akan musnah dan apa yang bersama tanah akan berkembang. Artinya jika setan berteori standar utama kebaikan adalah bahan baku penciptaan, maka ia harus bersujud kepada Nabi Adam as karena tanah lebih baik daripada api. Apabila setan mengetahui hal ini, maka sungguh jawaban bahwa ia menolak bersujud karena bahan baku penciptaan, semata-mata hanya alasan yang dibuat-buat. Artinya ia memang sengaja tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as, apapun alasannya.

Anjuran Wanita Bersedekah

Wanita harus bersedekah meski seadanya. Sebiji kurma sebagaimana Sayyidah Aisyah ra yang memberikan sebiji kurma kepada seorang wanita yang datang meminta. Sedekah wanita bukan hanya diberikan kepada orang lain, tetapi juga sah diberikan kepada sang suami tercinta seperti Zainab ra yang memberikan sedekahnya sendiri kepada sang suami Abdullah bin Mas’ud ra. Atau seperti seorang wanita sufi bernama Rabi’ah binti Ismail isteri sufi Ahmad bin Abi al Hawari yang memiliki kekayaan 7000 (dinar) dan memberikan seluruhnya kepada sang suami untuk digunakan biaya menikah dengan para wanita lain agar suaminya itu tidak mengganggunya untuk beribadah kepada Allah. Tentang isterinya yang ahli ibadah ini, Ahmad bin Abi al Hawari bercerita :

[Rabi’ah seringkali memasak daging untukku dan mengatakan : “Pergilah, bawalah kekuatanmu kepada isteri-isterimu!”. Ahmad melanjutkan : Dan setiap kali aku hendak menggaulinya pada siang hari maka ia mengatakan : “Saya memohon kepadamu agar engkau tidak membatalkan puasaku pada siang ini”, dan bila aku menghendakinya pada malam hari maka ia berkata : “Saya memohon kepadamu, agar engkau membiarkan malam ini untukku bersama Allah”

= والله يتولي الجميع برعايته =


Mari bersama Menebar manfaat kepada sesama. Kini bisa lebih mudah menyalurkan donasi Kita kepada mereka yang membutuhkan. Cukup melalui web Lazis Al-Haromain.

  • Klik : https://lazisalharomain.org/donasi/
  • Tulis nominal.
  • Klik : Donasi sekarang,
  • Tulis Identitas : Nama, jenis kelamin, alamat email, no. Hp, alamat, akad/niat donasi, pilih Bank.  Klik : donasi
  • Selesai.

Jazakumulloh telah bergabung dalam menebar manfaat untuk meraih kemulyaan.

Bagikan
Scroll Up